Evaluasi formatif

A.Pendahuluan

Latar Belakang

Menurut Scriven (1991) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009), evaluasi formatif adalah suatu evaluasi yang biasanya dilakukan ketika suatu produk atau program tertentu sedang dikembangkan dan biasanya dilakukan lebih dari sekali dengan tujuan untuk melakukan perbaikan. Sedangkan Weston, McAlpine dan Bordonaro (1995) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) menjelaskan bahwa tujuan dari evaluasi formatif adalah untuk memastikan tujuan yang diharapkan dapat tercapai dan untuk melakukan perbaikan suatu produk atau program.

Hal ini senada dengan Worthen dan Sanders (1997) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) yang menyatakan bahwa evaluasi formatif dilakukan untuk memberikan informasi evaluatif yang bermanfaat untuk memperbaiki suatu program. Baker mengatakan ada dua faktor yang mempengaruhi kegunaan evaluasi formatif, yaitu kontrol dan waktu. Bila saran perbaikan akan dijalankan, maka evaluasi formatif diperlukan sebagai kontrol. Informasi yang diberikan menjadi jaminan apakah kelemahan dapat diperbaiki. Apabila informasi mengenai kelemahan tersebut terlambat sampai kepada pengambilan keputusan, maka evaluasi bersifat sia-sia.

Evaluasi formatif secara prinsip merupakan evaluasi yang dilaksanakan ketika program masih berlangsung atau ketika program masih dekat dengan permulaan kegiatan. Tujuan evaluasi formatif tersebut adalah mengetahui seberapa jauh program yang dirancang dapat berlangsung, sekaligus mengidentifikasi hambatan. Dengan diketahuinya hambatan dan hal-hal yang menyebabkan program tidak lancar, pengambil keputusan secara dini dapat mengadakan perbaikan yang mendukung kelancaran pencapaian tujuan program.

 

 

B. Rumusan Masalah

Setelah bahan instruksional dibuat maka pembelajar dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut:

1.      Apakah bahan instruksional yang telah dikembangkan berdasarkan suatu proses itu benar-benar efektif dalam mencapai tujuannya.

2.      Apakah bahan instruksional masih perlu direvisi agar pemelajar dan pembelajar dapat menggunakan dengan lebih efektif dan efisien.

 

C. Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui apakah bahan instrusional yang telah dikembangkan berdasarkan suatu proses itu benar-benar efektif dalam mencapai tujuannya.

2.      Untuk mengetahui apakah bahan instruksional masih perlu direvisi agar pemelajar dan pembelajar dapat menggunakan dengan lebih efektif dan efisien

 

D. Pembahasan

 

Setelah bahan instruksional diproduksi, pendisain instruksional perlu mengevaluasi apakah bahan instruksional yang telah dikembangkan  berdasarkan suatu proses yang sistematis itu benar-benar efektif untuk  mencapai tujuannya ataukah masih diperlukan perbaikan atau revisi supaya pemelajar maupun pembelajar dapat  menggunakan dengan lebih efektif dan efisien.

Dalam proses pengembangan suatu produk instruksional, pelaksanaan evaluasi formatif adalah suatu keharusan. Hanya  dengan cara itulah pengembang instruksional dapat merasa yakin bahwa sistem instruksional yang ia kembangkan akan efektif dan efisien di lapangan sesungguhnya nanti.

 

Sumber: Atwi Suparman (2005)

 Identifikasi Kebutuhan Instruksional dan TIU

Setelah mengikuti materi kuliah, mahasiswa AKG semester III tahun 2010 mampu memahami dental caries dengan baik.

Analisis Instruksional

·        Menyebutkan definisi dental caries

·        Menjelaskan teori terjadinya dental caries

·        Menjelaskan tentang sifat-sifat dental caries

·        Menjelaskan macam-macam dental caries menurut kedalamannya

·        Menjelaskan tentang lama jalannya dental caries

·        Menjelaskan klasifikasi dental caries menurut G.V.Black

Mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa                                      

 Setelah dilakukan pretest diketahui mahasiswa AKG semester III Poltekkes Palembang 2010 belum memahami dental caries dengan baik.

TIK :

Setelah mengikuti materi kuliah, mahasiswa AKG semester III 2010 dapat

1.       menyebutkan definisi karies gigi dengan baik

2.       menjelaskan dua teori terjadinya dental caries dengan baik

3.       menjelaskan tentang sifat-sifat dental caries dengan baik

4.       menjelaskan macam-macam dental caries menurut kedalamannya dengan baik

5.       menjelaskan macam-macam dental caries menurut lama jalannya dg baik

6.       menjelaskan klasifikasi dental caries menurut G.V.Black

Penilaian Acuan Patokan PAP

Soal

TIK (1): 1. Sebutkan definisi karies gigi

TIK (2): 2. Terangkan dua teori terjadinya dental caries

TIK (3): 3. Jelaskan sifat-sifat dental caries

TIK (4): 4. Jelaskan macam-macam dental caries menurut kedalamannya

TIK (5): 5. Jelaskan macam-macam dental caries menurut lama jalannya

TIK (6): 6. Jelaskan klasifikasi dental caries menurut G.V. Black

 

Menyusun strategi instruksional

no

Kegiatan

Materi

Metode

Media

Waktu

1

2

 

 

 

3

Membuka perkuliahan

Penyajian materi

 

 

 

Penutup

·   Merangkum kuliah yang telah diberikan

·   Mengajukan pertanyaan

·   Menutup perkuliahan

Dental caries

-  definisi dental caries

-  teori terjadinya dental caries

-  sifat-sifat dental caries

-  macam den.car mnrt kdlmannya

-  macam den.car mnrt lm jlnnya

-  klasifikasi den.car mnrt GV Black

Materi kuliah yang telah diberikan

Pre test

§  Ceramah

§   

§  Diskusi

 

 

 

o      Post Test

o      Menutup

Kertas

o  LCD

o  Model

o  Papan tulis

 

 

 

Kertas

5 menit

80 menit

 

 

 

 

15 menit

Mengembangkan Bahan Instruksional

Teknik Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif terdiri dari beragam bentuk. Menurut Martin Tessmer (1996) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) evaluasi formatif dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Review ahli (expert review)

Evaluasi dimana ahli yang mengkaji ulang program layanan dengan atau tanpa kehadiran evaluator. Ahli bisa ahli materi, ahli teknis, perancang, atau instruktur. Evaluasi ini dilakukan terhadap program muatan layanan yang masih kasar atau masih dalam rancangan (draft) untuk mengetahui kelebihan dan kelemahannya.

Kelebihan dari review ahli adalah:

  • Review menghasilkan tipe informasi yang berbeda jika dibandingkan dengan informasi yang diperoleh dari evaluasi orang per orang, kelompok kecil, atau uji lapangan.
  • Kadang-kadang ahli yang dibutuhkan telah ada dan dibayar dengan murah.

Sedangkan kelemahannya adalah:

  • Review ahli tidak memberikan pandangan atau pendapat dari sudut pandang siswa.
  • Review ahli membutuhkan biaya tinggi jika orang ahli harus didatangkan dari wilayah yang jauh.

Informasi yang dapat digali dari pelaksanaan review ahli antara lain:

  • Informasi yang berkaitan dengan content (materi), seperti kelengkapan, akurasi, kepentingan, serta kedalaman.
  • Informasi yang berkaitan dengan disain instruksional, seperti kesesuain dengan karakteristik, dan tugas perkembangan siswa, kesesuaian antara tujuan-materi-evaluasi, ketepatan pemilihan media, dan ketertarikkan bagi siswa.
  • Informasi yang berkaitan dengan implementasi, seperti kemudahan penggunaan, kesesuaian dengan lingkungan belajar sebenarnya, kesesuaian dengan lingkungan.
  • Informasi kualitas teknis, seperti kualitas layout, grafis, audio, visual, dll

 

2.       Evaluasi Satu lawan Satu (One to One)

Pada tahap ini seorang designer memiilih  beberapa orang siswa (tidak lebih dari tiga orang) yang dapat mewakili populasi target  dari media yang dibuat. Sajikan media tersebut  kepada mereka secara indididual. Kalau media itu didesain untuk belajar mandiri, biarkan siswa mempelajarinya, sementara pengembang (developer) mengamatinya. Kedua orang siswa yang telah dipilih tersebut hendaknya satu orang dari populasi target  yang bermemampuan yang umumnya sedikit di bawah rata-rata dan  satu orang lagi diatas rata-rata. Dengan kata lain,  dalam menentukan kelompok ini variasi kemampuan akademis populasi target dipertimbangkan.

Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

1)       Jelaskan kepada siswa bahwa  designer sedang merancang suatu media baru dan ingin mengetahui bagaimana reaksi siswa terhadap media yang sedang dibuat.

2)       Menjelaskan kepada siswa bahwa apabila nanti siswa berbuat salah, hal itu bukanlah karena kekurangan siswa, tetapi kekurangsempurnaan media tersebut, sehingga perlu diperbaiki.

3)       Diusahakan agar siswa bersikap rileks  dan bebas mengemukakan pendapatnya tentang media tersebut.

4)       Memberikan tes awal (pretest)  untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dan pengetahuan siswa terhadap topik yang dimediakan.

5)       Menyajikan media dan mencatat  lamanya waktu yang dibutuhkan, termasuk siswa untuk menyajikan/mempelajari media tersebut, catat pula bagaimana reaksi siswa dan bagian-bagian yang sulit untuk dipahami, apakah contoh-contohnya, penjelasannya, petunjuk-petunjuknya, ataukah yang lain.

6)       Memberikan tes (posttest) untuk mengukur keberhasilan media tersebut

7)       Analisis informasi yang terkumpul

Beberapa informasi yang dapat diperoleh melalui kegiatan ini antara lain kesalahan pemilihan kata atau uraian-uraian yang tidak jelas, kesalahan dalam memilih lambang-lambang visual, kurangnya contoh, terlalu banyak atau sedikitnya materi, urutan penyajian yang keliru, pertanyaan atau petunjuk  kurang jelas, tujuan tak sesuai dengan materi, dan sebagainya.

Jumlah dua orang untuk kegiatan ini adalah jumlah minimal. Setelah selesai, dapat dicobakan kepada beberapa orang siswa yang lain dengan prosedur yang sama.Selain itu dapat juga dicobakan kepada ahli bidang studi (content expert). Mereka seringkali memberikan umpan balik (feedback) yang bermanfaat. Atas dasar atau informasi dari kegiatan-kegiatan tersebut akhirnya revisi media dilakukan sebelum dicobakan.

 

3. Evaluasi Kelompok Kecil (Small Group Evaluation)

Pada tahap ini media perlu dicobakan kepada 10-12 orang siswa yang dapat mewakili populasi target. Jumlah 10 merupakan jumlah minimal, sebab kalau kurang dari jumlah tersebut  data  yang diperoleh kurang dapat menggambarkan populasi target. Sabaliknya jika lebih dari 12,  data atau informasi melebihi yang diperlukan, akibatnya kurang bermanfaat untuk dianalisis dalam kelompok kecil.

Siswa yang dipilih dalam kegiatan ini hendaknya mencerminkan karakteristik populasi.Usahakan sampel tersebut terdiri dari siswasiswa yang kurang pandai, sedang, dan pandai, laki-laki dan perempuan, berbagai usia dan latar belakang.

Prosedur yang ditempuh adalah sebagai berikut:

1)       Designer bahwa media tersebut berada pada tahap  formatif  dan memerlukan umpan balik (feedback) untuk menyempurnakannya.

2)       Memberikan tes awal (pretest) untuk mengukur kemampuan dan pengetahuan siswa tentang topik yang disediakan. Sajikan media atau meminta kepada siswa untuk mempelajari media tersebut.

3)       Designer mencatat waktu yang diperlukan dan semua bentuk umpan balik (feedback) baik langsung maupun tak langsung selama penyajian media.

4)       Memberikan tes (posttest) untuk  mengetahui sejauh mana tujuan dapat dicapai

5)       Memberikan atau membagikan kuesioner dan meminta siswa untuk mengisinya. Apabila memungkinkan, adakan diskusi yang  mendalam dengan beberapa siswa. Beberapa pertanyan yang perlu didiskusikan antar lain:  (a) menarik tidaknya media tersebut, apa sebabnya, (b) mengerti tidaknya siswa akan pesan yang disampaikan, (c) konsistensi tujuan dan meteri program, cukup tidaknya latihan dan contoh yang diberikan. Apabila pertanyan tersebut telah ditanyakan dalam kuesioner, informasi yang lebih detail dan jauh dapat dicari lewat diskusi. Menganalisa data yang terkumpul. Atas dasar ini umpan balik  semua ini, media dapat dilakukan penyempurnaan.

 

4. Evaluasi Lapangan (Field Evaluation)

Evaluasi lapangan adalah tahap akhir dari evaluasi formatif yang perlu dilakukan. Evaluasi lapangan diusahakan situasinya semirip mungkin dengan situasi sebenarnya. Setelah melalui dua tahap evaluasi di atas tentulah media yang dibuat sudah mendekatki kesempurnaan. Namun dengan hal itu masih harus dibuktikan. Melalui evaluasi lapangan inilah, kebolehan media yang kita buat itu diuji. Dalam melakukan evaluasi lapangan seorang designer memilih sekitar 30 orang siswa sambil memperhatikan beragam karakteristik seperti kepandaian, kelas sosial, latar belakang, jenis kelamin, usia, kemajuan belajar, dsbnya sesuai dengan karakteristik sasaran.

Satu hal yang perlu dihindari baik untuk dua tahap evaluasi terdahulu  dan terutama untuk evaluasi lapangan  adalah apa yang disebut “efek halo”  (hallo effect). Situasi seperti ini  muncul apabila media dicobakan pada kelompok responden yang salah. Maksudnya kita dapat membuat program film bingkai atau transparansi OHP  dan film  kepada siswa-siswa yang belum pernah memperoleh sajian dengan transparansi atau melihat film. Pada situasi seperti ini, informasi yang diperoleh banyak dipengaruhi oleh sifat kebaruan tersebut sehingga kurang dapat dipercaya.Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut:

1)       Mula-mula designer memilih siwa-siwa yang benar-benar mewakili populasi target, kira-kira 30 orang siswa. Usahakan agar mereka mewakili berbagai tingkat kemampuan dan ketramnpiulan siswa yang ada. Tes kemampuan awal (pretest) perlu dilakukan jika karakteristik siswa belum diketahui. Atas dasar itu pemilihan siswa dilakukan. Akan tetapi, jika designer  benar-benar mengenal  siswa-siswa yang akan dipakai dalam uji coba, maka tes  itu tidak pelu dilakukan. 

2)       Designer menjelaskan  kepada siswa maksud uji lapangan tersebut dan apa yang  harapkan designer pada akhir kegiatan. Pada umumnya siswa tak terbiasa untuk mengkritik bahan-bahan atau media yang diberikan. Hal itu karena siswa beranggapan sudah benar dan efektif. Usahakan siswa bersikap rileks dan berani mengupayakan penilaian. Jauhkan sedapat mungkin perasaan bahwa uji coba menguji kemampuan siswa.

3)       Memberikan tes awal untuk mengukur sejauh mana pengetahuan dan keteramnpilan siswa terhdap topik yang dimediakan.

4)       Menyajikan media tersebut kepada siswa. Bentuk penyajiannya tentu sesuai dengan rencana pembuatannya; untuk prestasi kelompok  besar, untuk kelompok kecil atau belajar mandiri.

5)       Designer mencatat semua respon yang  muncul dari sisiwa selama kajian. Begitu pula, waktu yang diperlukan.

6)       Berikan tes untuk mengukur seberapa jauh pencapaian hasil  belajar siswa  setelah sajian media tersebut. Hasil tes ini (posttest) dibandingkan dengan hasil tes pertama (pretest) akan menunjukan seberapa efektif dan efisien dari media yang dibuat.

7)       Memberikan kuesioner untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa terhadap media tersebut dan sajian yang diterimanya.

8)       Designer meringkas dan menganalisis data-data yang telah diperoleh dengan kegiatan-kegiatan tadi. Hal ini meliputi kemampuan awal, skor test  awal dan tes akhir, waktu yang diperlukan, perbaikan bagian-bagian yang sulit, dan pengayaan yang diperlukan, kecepatan sajian dan sebagainya.

Setelah menempuh ketiga tahap ini dapatlah dipastikan kebenaran efektivitas dan efisiensi media yang kita buat.

Ketiga tahap penilaian tersebut di atas dapat dilihat pada bagan berikut ini.

Bagan Prosedur Evaluasi Media

                                                                                      Sumber : Azhar Arsyad (2007)

E. Kesimpulan 

Sebuah media yang telah dirancang  perlu dilakukan evaluasi seperlunya, termasuk media yang dirancang oleh seorang ahli designer. Sebab sebuah media yang dihasilkan oleh seorang ahli dalam bidang media tidak secara otomatis bersifat efektif dan efisien untuk menyampaikan pesan kepada pemakai media (siswa). Kehebatan seorang  perancang media tidak hanya terletak pada kemahirannya merancang sebuah mediaa tetapi juga keuletannya melewati tahap-tahap atau proses evaluasi. Dan dalam melewati proses/tahap-tahap evaluasi tersebut seorang perancang media niscaya berhubungan dengan orang lain, baik secara pribadi (siswa/ahli lain) maupun kelompok (kecil dan besar).

Melalui proses itulah sebuah media layak digunakan/dipakai kendatipun dalam kurun waktu tertentu, media tersebut masih bisa dievalusi kembali, hal itu tergantung kepada karakteristik dan latar belakang para pengguna media tersebut.

Daftar Rujukan

Arsyad, Azhar (2007). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Badrujaman, Aip. (2009). Diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling. Jakarta.

Suparman, A. 2005. Desain Instruksional, Pusat antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Universitas. Universitas Terbuka. Jakarta

 


Komentar:


belum ada komentar...


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion